Wednesday, February 8, 2012

BALADA ANAK KOSAN

#Pembersih wajah#
awal bulan : Olay Anti Aging
tengah bulan : Tje fuk
akhir bulan : Mama Lemon juga oke

#Komunikasi dengan pacar#

awal bulan : teleponan
tengah bluan : smsan
akhir bulan : sms mama minta pulsa..


#Makanan Cafe#
awal bln : makan steak di resto
tengah bln : maem stik obonk
akhir bln : ngemut stik PS


#FastFood#
Awal bulan : Makan dada ayam
tengah bulan : Makan ceker ayam
akhir bulan : maling ayam


#SUARA PERUT SAAT LAPAR#
awal bulan : C minor
tengah bulan : G mayor
akhir bulan : C Am Dm G A B#7 *lagu gugur bunga*


#Makanan#
awal bulan : makan pizza
tengah balan : makan pisang
akhir bulan : nasi kucing, angkringan, burjo (ngutang tentunya :D)

#Minuman#
awal bulan : Coca Cola
tengah bulan : Es teh
akhir bulan : air PDAM, air sumur.


#Dugem#
Awal bulan : diskotik
tengah bulan : Live Music Cafe
akhir bulan : 5 ribu dapet apa ya? *dangdutan MISBAR, gerimis bubar*


#Tongkrongan#
awal bulan : mall
tengah bulan : kantin kampus
akhir bulan : lampu merah *bawakerecekan *nyanyikeongracun*


#Cucian#
Minggu awal : Paket laundry mingguan
Minggu tengah : cuci sendiri
Minggu akhir : kolor Side A-Side B


#Rokok#
Awal bln : Marlboro
tengah bln : Sejati
akhir bln : cium2 asbak!


#Parfum#
awal bulan : AXE Effect
tengah bulan : Cassablanca
akhir bulan : Rapika!!!

#Nonton#
Awal bulan : nonton bioskop in 3D (Blitz Megaplex sekalian :P )
tengah bulan : DVD bajakan
akhir bulan : pindah channel ke Indosiar (Nonton sinetron siluman naga terbang in 3D).
Read More

Friday, December 16, 2011

Ketika Dosen dan Kita

DOSEN : Selalu benar.
KITA : Selalu salah.

• Jika DOSEN tetap pada pendapatnya, itu konsisten.
• Jika KITA demikian, itu keras kepala.

• Jika DOSEN berubah 2x pendapat, itu fleksibel.
• Jika KITA demikian, itu plin plan.

• Jika DOSEN bekerja lambat, itu teliti.
• Jika KITA demikian, itu bodoh.

• Jika DOSEN bekerja cepat, itu terampil.
• Jika KITA demikian, itu asal-asalan.

• Jika DOSEN lambat memutuskan, itu hati-hati.
• Jika KITA demikian, itu idiot.

• Jika DOSEN cepat mengambil keputusan, itu berani ambil resiko.
• Jika KITA demikian, itu gegabah.

• Jika DOSEN melanggar prosedur, berarti inisiatif.
• Jika KITA demikian, itu tidak tahu aturan.

• Jika DOSEN menyatakan : “Mudah” itu berarti optimis.
• Jika KITA demikian menyatakan : “Mudah” itu sok.

• Jika DOSEN sering keluar kampus, itu cari peluang.
• Jika KITA demikian, itu cari kesempatan.

• Jika DOSEN men-service atasan, itu loyalitas.
• Jika KITA demikian, itu menjilat.

• Jika DOSEN sering tidak masuk, itu kecapaian kerja keras.
• Jika KITA demikian, itu malas.

• Jika DOSEN membuat lelucon, itu humoris
• Jika KITA demikian, itu frustasi.

• Jika DOSEN mengirim joke ini ke KITA berarti peace
• Jika KITA nekat ngirim joke ini ke DOSEN berarti rest in peace

(sumber asli from kaskus versi asli BOSS dan SAYA)
Read More

Tuesday, December 6, 2011

Kata - Kata Motivasi Dosis Tinggi

Pemenang selalu menjadi bagian dari jawaban
Pecundang selalu menjadi bagian dari masalah

Pemenang selalu punya program
Pecundang selalu punya kambing hitam

Pemenang selalu berkata,”Biarkan saya yang mengerjakannya untuk Anda”
Pecundang selalu berkata,” Itu bukan pekerjaan saya.”

Pemenang selalu melihat jawaban dalam setiap masalah
Pecundang selalu melihat masalah dalam setiap jawaban

Pemenang selalu berkata,”Itu memang sulit, tapi kemungkinan bisa.”
Pecundang selalu berkata,” Itu mungkin bisa, tapi sulit.”

Saat pemenang melakukan kesalahan, dia berkata,”saya salah.”
Saat pecundang melakukan kesalahan dia berkata,” itu bukan salah saya”

Pemenang membuat komitmen-komitmen
Pecundang membuat janji-janji

Pemenang punya impian-impian
Pecundang punya tipu muslihat

Pemenang berkata,” saya harus melakukan sesuatu.”
Pecundang berkata,”Harus ada yang dilakukan.”

Pemenang adalah bagian dari tim
Pecundang melepaskan diri dari tim

Pemenang melihat keuntungan
Pecundang melihat kesusahan

Pemenang percaya pada menang-menang (win-win)
Pecundang percaya, mereka harus menang orang lain harus kalah.

Pemenang melihat potensi
Pecundang melihat yang sudah lewat

Pemenang seperti thermostat- alat pengatur/pengimbang panas
Pecundang seperti thermometer

Pemenang memilih apa yang mereka katakan
Pecundang mengatakan apa yang mereka pilih

Pemenang menggunakan argumentasi keras dengan kata-kata lembut
Pecundang menggunakan argumentasi lunak tapi dengan kata-kata yang keras

Pemenang berpegang teguh pada nilai-nilai, tapi bersedia berkompromi pada hal-hal remeh
Pecundang berkeras pada hal-hal remeh tapi mengkompromikan nilai-nilai

Pemenang menganut filosofi empati, “Jangan berbuat kepada orang lain apa yang Anda tidak ingin orang lain perbuat kepada Anda”
Pecundang menganut filosofi,” Lakukan kepada orang lain sebelum mereka melakukannya kepada Anda”

Pemenang membuat sesuatu terjadi
Pecundang membiarkan sesuatu terjadi
Read More

Sunday, June 19, 2011

Menelusuri jejak Jacques Derrida

Jacques Derrida (1930–2004) adalah seorang filsuf Prancis, yang dianggap sebagai tokoh penting post-strukturalis-posmodernis. Derrida lahir dalam lingkungan keluarga Yahudi pada 15 Juli 1930 di El-Biar dekat Aljazair. Pada tahun 1949 ia pindah ke Prancis, di mana ia tinggal sampai akhir hayatnya. Ia kuliah dan akhirnya mengajar di École Normale Supérieure di Paris. Derrida pernah mendapat gelar doctor honoris causa di Universitas Cambridge. Ia meninggal dunia karena penyakit kanker pada 2004.[1]
Derrida muda dibesarkan dalam lingkungan yang agak bersikap diskriminatif. Ia mundur atau dipaksa mundur dari sedikitnya dua sekolah, ketika ia masih anak-anak, semata-mata karena ia seorang Yahudi. Ia dipaksa keluar dari sebuah sekolah, karena ada batas kuota 7 persen bagi warga Yahudi. Meskipun Derrida mungkin tidak akan suka, jika dikatakan bahwa karyanya diwarnai oleh latar belakang kehidupannya ini, pengalaman kehidupan ini tampaknya berperan besar pada sikap Derrida yang begitu menekankan pentingnya kaum marginal dan yang lain, dalam pemikirannya kemudian. Karya awal Derrida di bidang filsafat sebagian besar berkaitan dengan fenomenologi. Latihan awalnya sebagai filsuf dilakukan melalui kacamata Edmund Husserl. Inspirasi penting lain bagi pemikiran awalnya berasal dari Nietzsche, Heidegger, De Saussure, Levinas dan Freud. Derrida mengakui utang budinya kepada para pemikir itu dalam pengembangan pendekatannya terhadap teks, yang kemudian dikenal sebagai 'dekonstruksi'.
Karier profesional Derrida dimulai sejak dia menjadi mahasiswa filsafat di Ecole Normale Superieure, Paris. Tulisan-tulisan yang dihasilkannya mengandaikan pembaca memiliki pengetahuan yang cukup luas tentang disiplin flsafat. Pada tahun 1967-1984 Derrida sudah menjadi filsuf penting kelas dunia. Ia menjabat sebagai dosen tetap (maitre-assistant) untuk bidang filsafat di Ecole Normale Superieure, sementara ia pun sering memberikan kuliah tamu ke universitas-universitas Amerika, terutama John Hopkins dan cherche sur I’enseignement de la philosophie (GREPH) yang berhasil menggagalkan upaya pemerintahan untuk membatasi pengajaran filsafat. Ia menerbitkan tiga karya utama (Of Grammatology, Writing and Difference, dan Speech and Phenomena). Seluruh karyanya ini memberi pengaruh yang berbeda-beda, namun Of Grammatology tetap karyanya yang paling terkenal. Pada Of Grammatology, Derrida mengungkapkan dan kemudian merusak oposisi ujaran-tulisan, yang menurut Derida telah menjadi faktor yang begitu berpengaruh pada pemikiran Barat.
Dekonstruksi sering menjadi subyek kontroversi. Ketika Derrida diberi gelar doctor honoris causa di Cambridge pada 1992, banyak protes bermunculan dari kalangan filsuf “analitis.” Sejak itu, Derrida juga mengadakan banyak dialog dengan filsuf-filsuf seperti John Searle, yang sering mengeritiknya. Bagaimanapun, dari banyaknya antipati tersebut, tampak bahwa dekonstruksi memang telah menantang filsafat tradisional lewat berbagai cara penting. Derrida dianggap sebagai salah satu filsuf terpenting abad ke-20 dan ke-21. Istilah-istilah falsafinya yang terpenting adalah différance dan dekonstruksi.
Untuk memahami Derrida, kita mencoba melacak kronologi pemikirannya dari strukturalisme Saussurean yang bernuansa modernitas tersebut. Menurut paham strukturalisme, kenyataan tertinggi dari realitas adalah struktur. Struktur itu sendiri adalah saling hubungan antar-konstituen, bagian-bagian, atau unsur-unsur pembentuk keseluruhan, sebagai penyusun sifat khas, atau karakter dan koeksistensi, dalam keseluruhan bagian-bagian yang berbeda. Bila bahasa dilihat secara struktural, bisa disimpulkan bahwa bahasa bisa ada karena adanya sistem perbedaan (system of difference), dan inti dari sistem perbedaan ini adalah oposisi biner (binary opposition). Seperti, oposisi antara penanda/petanda, ujaran/tulisan, langue/parole. Oposisi biner dalam linguistik ini berjalan seiring dengan hal yang sama dalam tradisi filsafat Barat, seperti: makna/bentuk, jiwa/badan, transendental/imanen, baik/buruk, benar/salah, maskulin/feminin, intelligible/sensible, idealisme/ materialisme, lisan/tulisan, dan sebagainya.
Dalam oposisi biner ini terdapat hirarki. Yang satu dianggap lebih superior dari pasangannya. Misalnya, jiwa diangap lebih mulia dari badan, rasio dianggap lebih unggul dari perasaan, maskulin lebih dominan dari feminin, dan sebagainya. Dalam linguistik Saussurean, lisan (ujaran) dianggap lebih utama dari tulisan, karena tulisan dipandang hanya sebagai representasi dari lisan. Oposisi biner paling terkemuka, yang dibongkar dalam karya awal Derrida, adalah antara ujaran (speech) dan tulisan (writing). Menurut Derrida, pemikir-pemikir seperti Plato, Rousseau, De Saussure, dan Levi-Strauss, semua telah melecehkan kata tertulis dan lebih mengutamakan ujaran, dengan mengontraskan, dan menempatkan ujaran sebagai semacam saluran murni bagi makna.
Kebenaran yang semula berada di luar penanda (eksternal), kemudian menjadi lekat dengan penanda itu sendiri dalam bahasa. Dia bisa hadir lewat penanda. Kesatuan antara bentuk (penanda) dan isi (petanda) inilah yang disebut Derrida sebagai metafisika kehadiran (metaphysic of presence). Metafisika kehadiran, yang terkadang disebut logosentrisme, berasumsi bahwa sesuatu yang bersifat fisik (penanda) dan yang melampaui fisik (petanda) dapat hadir secara bersamaan, dan hal ini hanya mungkin dalam ujaran, bukan tulisan. Tanpa mempersoalkan rincian tentang cara para pemikir itu menetapkan dan membenarkan oposisi hirarkis semacam ini, penting untuk diingat bahwa strategi pertama dekonstruksi adalah membalikkan oposisi-oposisi yang sudah ada. Derrida menyangkal oposisi-oposisi biner semacam itu, dan akhirnya juga menolak kebenaran tunggal atau logos itu sendiri.
Dalam karyanya, Of Grammatology, Derrida berusaha menunjukkan bahwa struktur penulisan dan gramatologi lebih penting dan bahkan “lebih tua” ketimbang yang dianggap sebagai struktur murni kehadiran diri (presence-to-self), yang dicirikan sebagai kekhasan atau keunggulan lisan atau ujaran. Sebagai contoh, dalam keseluruhan bab Course in General Linguistics karya Ferdinand de Saussure, Saussure mencoba membatasi ilmu linguistik hanya pada fonetik (phonetic) dan kata yang bisa didengar (audible word). Dalam penyelidikan ini, Saussure sampai mengatakan bahwa "bahasa dan tulisan adalah dua sistem tanda yang berbeda: yang kedua eksis semata-mata hanya untuk representasi dari yang pertama". Bahasa, tegas Saussure, memiliki tradisi oral yang independen dari penulisan, dan keindependenan inilah yang membuat sebuah ilmu murni ujaran dimungkinkan. Derrida dengan berapi-api menolak hirarki ini. Derrida sebaliknya berargumentasi bahwa semua yang bisa diklaim terhadap tulisan –seperti, bahwa itu sekadar merupakan turunan (derivatif) dan hanya merujuk ke tanda-tanda lain— sebenarnya juga sama berlaku terhadap ujaran.
Inilah pengertian “tulisan” yang ingin ditekankan Derrida. Derrida menggunakan istilah arche-writing, yakni tulisan yang merombak total keseluruhan logika tentang tanda. Jadi, tulisan yang dimaksud Derrida bukanlah tulisan (atau tanda) sederhana, yang dengan mudah dianggap mewakili makna tertentu. Dilihat dengan cara lain, tulisan merupakan prakondisi dari bahasa, dan bahkan telah ada sebelum ucapan oral. Maka tulisan malah lebih “istimewa” daripada ujaran. Tulisan adalah bentuk permainan bebas dari unsur-unsur bahasa dan komunikasi. Tulisan merupakan proses perubahan makna terus-menerus dan perubahan ini menempatkan dirinya di luar jangkauan kebenaran mutlak (logos). Jadi, tulisan bisa dilihat sebagai jejak, bekas-bekas tapak kaki, yang harus kita telusuri terus-menerus, jika ingin tahu siapa si empunya kaki (yang kita anggap sebagai makna yang mau dicari). Proses berpikir, menulis dan berkarya berdasarkan prinsip jejak inilah yang disebut Derrida sebagai differance. Differance adalah kata Perancis yang jika diucapkan pelafalannya persis sama dengan kata difference. Kata-kata ini berasal dari kata differer yang bisa berarti “berbeda” sekaligus “menangguhkan/menunda.” Kita tak bisa membedakan differance dan difference hanya dengan mendengar ujaran (karena pelafalannya sama), tetapi harus melihat tulisannya. Di sinilah letak keistimewaan kata ini, yang sekaligus membuktikan tulisan lebih unggul ketimbang ujaran, sebagaimana diyakini Derrida.
Jika kata terucap (ujaran) membutuhkan tulisan untuk bisa berfungsi secara memadai, seperti ambiguitas dalam kata differance dan difference tersebut, maka ujaran itu sendiri selalu berjarak dari setiap apapun yang diklaim sebagai kejelasan kesadaran (clarity of consciousness). Pernyataan Derrida ini secara tegas telah membantah habis argumen De Saussure, yang berusaha memisahkan ujaran dan tulisan, dan melecehkan tulisan sebagai sesuatu yang nyaris tidak dibutuhkan oleh ujaran.
Differance adalah permainan perbedaan-perbedaan, jejak-jejak dari perbedaan-perbedaan, dan penjarakan (spacing), yang dengan cara tersebut unsur-unsur dikaitkan satu sama lain. Proses differance ini menolak adanya petanda absolut atau “makna absolute,” makna transendental, dan makna universal, yang diklaim ada oleh De Saussure dan oleh pemikiran modern pada umumnya. Menurut Derrida, penolakan ini harus dilakukan karena adanya penjarakan (spacing), di mana apa yang dianggap sebagai petanda absolut sebenarnya hanyalah selalu berupa jejak di belakang jejak. Selalu ada celah atau kesenjangan antara penanda dan petanda, antara teks dan maknanya. Celah ini membuat pencarian makna absolut mustahil dilakukan. Setelah “kebenaran” ditemukan, ternyata masih ada lagi jejak “kebenaran” lain di depannya, dan begitu seterusnya. Jadi, apa yang dicari manusia modern selama ini, yaitu kepastian tunggal yang “ada di depan,” tidaklah ada dan tidak ada satu pun yang bisa dijadikan pegangan. Karena, satu-satunya yang bisa dikatakan pasti, ternyata adalah ketidakpastian, atau permainan. Semuanya harus ditunda atau ditangguhkan (deferred) sembari kita terus bermain bebas dengan perbedaan (to differ). Inilah yang ditawarkan Derrida, dan posmodernitas adalah permainan dengan ketidakpastian.
Dekonstruksi pada awalnya adalah pembacaan teks pada sastra, ia bergerak di wilayah sastra. Namun pada akhirnya dekonstruksi masuk ke dalam seluruh wacana filsafat. Jadi dekonstruksi itu pembacaan filsafat secara sastrawi. Dekonstruksi adalah metode membaca teks secara sangat cermat hingga menemukan ketidakkonsistenan dan paradoks dalam konsep-konsep teks secara keseluruhan. Disamping itu dekonstruksi mempunyai kelebihan dan kekurangan. diantara kelebihnya adalah Dekonstruksi menolak kemapanan. Menolak obyektivitas tunggal dan kestabilan makna. Karena itu, Dekonstruksi membuka ruang kreatif seluas-luasnya dalam proses pemaknaan dan penafsiran. Diantara kelemahan teori dekonstruksi adalah:1. Kebebasan tanpa batas menjadikan makna kehilangan ‘roh’. 2. Ketidakbernilaian makna, 3. Dekonstruksi tidak menyediakan shelter-shelter untuk persinggahan khusus dalam proses perjalanan pemaknaan. 4. Tidak adanya upaya untuk menghargai puing-puing hasil penghancuran makna
Demikianlah Jacques Derrida menjdi terkenal karena konsep dekonstruksinya yang mana beliau berhasil untuk meyakinkan para pembaca bahwa setelah setengah abad perkembangan strukturalisme, beliau berhasil mengungkapkan kompleksitas sekaligus kelemahannya..
Read More

Menelusuri jejak Jacques Lacan

Jacques Lacan lahir pada tanggal 13 April 1901 dan meninggal dunia 9 September 1981 adalah seorang psikoanalis dan psikiatris Prancis yang memiliki kontribusi besar dalam bagunan pemikiran filsafat, psikoanalisis dan kepustakaan teoritis. Lacan secara rutin memberikan seminar di Prancis dari tahun 1953 hingga 1981, hingga memiliki pengaruh yang begitu besar di kalangan intelektual Prancis saat itu, terutama bagi pemikiran filsafat aliran post-strukturalis. Lacan membaca Freud dengan baik, diktum kembali ke Freud (return of Freud) di kumandangkannya. Berpegang pada silsilah pemikiran psikoanalisis yang menekankan pada alam bawah sadar (unconscious mind), sampai mengakui ego ideal. Lacan membenturkan dengan korelasivitas studi bahasa, menggambarkannya juga dengan pemikiran kritis. Bagaimana fungsi bahasa dapat dilihat tidak hanya berbentuk instrumen komunikasi saja, melainkan memiliki relasi signifikan dengan ”aku (I)”. Ataupun sebaliknya, konsep ”aku (I)” tidak sekadar selesai pada tahap individual, tetapi juga mengakui (to recofnize) yang lain (the other) sebagai bagian yang ada (being).
Jacques Lacan lahir di Paris, anak sulung dari Emilie dan Alfred Lacan yang memiliki tiga anak. Ayahnya seorang saudagar perusahaan minyak dan sabun yang cukup sukses. Ibunya seorang penganut Katolik yang teguh. Pada mulanya lacan sering menghadiri pertemuan politik organisasi sayap kanan Action Francaise yang di pimpin oleh Charles Maurras. Pertengahan 1920-an, Lacan merasa tidak tahan dengan tradisi keagamaan dan memiliki pendirian yang berseberangan dengan keluarganya.
Pada tahun 1920 itu juga ia gagal masuk akademi militer, dan dia langsung masuk sekolah medis. Akhirnya dia menjadi psiatris yang bertugas di rumah sakit Sainte-Anne di Paris. Ia mulai tertarik dengan filsafat Karl Jaspers dan Martin Heidegger, dan menghadiri seminar yang membahas Hegel yang hadir sebagai pembicara saat itu adaah Alexandre Kojeve. Beberapa waktu setelah itu, di tahun 1938, Lacan belajar serius psikoanalisis dengan Rudolf Loewenstein.
Perkenalan Lacan dengan psikoanalisis membuahkan sebuah tradisi intelektual yang menarik sepanjang zaman. Menekankan pada satu perhatian terhadap teks-teks orisinal Freud dan kritik radikal terhadap ego psikologis, Lacan berpikir bahwa Freud ada relasi yang kuat antara gagasan keseleo lidah, misalnya, dengan tradisi pemikiran Prancis kala itu, strukturalis. Bahwa bahasa itu menunjukan alam bawah (unconsciuus mind) seseorang. Dengan kata lain, kata-kata yang di ucapkan seseorang saat mengigau, lupa, keceplosan, semuanya itu merupakan ”tanda (signfied)” yang mencerminkan kondisi alam bawah sadar (unconsciuus mind). Lacan percaya bahwa susunan alam bawah sadar (unconsciuus mind) itu menyerupai struktur bahasa. Hla ini bukan menunjukan ruang arketipal dalam pikiran atau kepribadian yang terpisah dengan alam sadar (conscious). Ini masuk ego linguistik, meski komposisinya cukup komplek seperti alam bawah (unconscious) itu sendiri. Kendatipun demikian, jika benar klaim Lacan bahwa alam bawah sadar ((unconsciuus) memiliki struktur yang sama dengan bahasa, bagaimana dengan kondisi seseorang yang mengalami krisis identitas, trauma, dan sakit jiwa. Bagi mereka bahasa sudah tidak lagi bermakna, bahkan mungkin sebaliknya, satu kata bahasa bisa membuat kambuh.
Freud menyembuhkan Anna O dengan metode dialog. Bahasa yang di keluarkan oleh pasien di pahami sebagai simbol-simbol yang hendak ditangkap sebagai bahan penyembuhan. Simbol-simbol itu tidak berdiri sendiri, melainkan menyatu dengan pengalaman (experience of live man).
Setiap manusia memiliki pengalaman yang bervariasi. Yang membedakan orang satu dengan yang lain. Kontribusi Lacan menghubungkan psikoanalisis dengan logika linguistik cukup berharga. Pengalaman perkembangan manusia yang pada tahap-tahap tertentu pun di baca oleh Lacan. Misalnya saja, pengalaman saat seseorang masih dalam posisi bocah, yang hendak mengenali dirinya sendiri.
Pengalaman pada tahap ini disebut tahap cermin (le stade du miroir dalam bahasa Prancis jika bahasa Inggris the mirror stage) di jelaskan bahwa tahap di mana perkembangan dari fungsi ”Aku (I)” dalam tubuh manusia bekerja secara alamiah jika di potret melalui psikoanalisis (as formative of the function of the I as revealed in psychoanalytic experience). Umpamanya, pengujian yang di lakukan oleh sampel: seorang bocah manusia dan bayi simpanse. Keduanya di beri cermin atau kaca. Seorang bocah mengenali dirinya, mengidentifikasi, meneliti secara fisik, kemudian mengimajinasikan bentuk-bentuk dalam cermin itu, yan tidak lain adalah dirinya sendiri. Ia bisa berdandan, melihat dan mempelajari dirinya dan lingkungan sekitarnya. Sementara bayi simpanze hanya membuat kaca untuk bahan permainan. Ia tidak mengenali dirinya di dalam cermin. Berbeda dengan si bocah manusia. Tahap cermin setidaknya menandakan: pertama, eksistensi nilai historis sebagai trajektori titik balik dalam pembangunan mental anak. Dan, kedua, melambangkan sebuah hal penting tentang hubungan libidinal dengan citra-tubuh (the body-image).
Dalam La relation d'objet seminar ke empat. Lacan menegaskan bahwa tahap cermin ini berjauhan dengan fenomena utuh yang terjadi pada pembangunan mental anak. Hal ini mengilustrasikan konflik alamiah di antara dua hubungan: antara nilai historis (historical value) dan logika simbolik (structural value).
Tahap cermin ini mendeskripsikan komposisi Ego dalam proses objektifikasi. Ego merupakan hasil akhir dari perselisihan rasa antara suatu rasa penampilan (one's perceived visual appearance) dan rasa emosional atas realitas (one's perceived emotional reality). Lacan menyebutnya bagian ini sebagai alienasi atau pengasingan (alienation). Di enam bulan bertama bayi kekurangan keseimbangan fisik. Setelah itu ia dapat mengenali dirinya sendiri dalam tahap cermin dengan mngontrol dan mengkoordinasi gerakan tubuhnya. Cermin dalam kategori Lacan dapat di pahami secara metafor maupun empiris. Ketika seorang bocah dihadapkan dengan cermin, penampilan yang kontras di dalam cermin yang menggambarkan anak, mulanya, di pandang sebagai sebuah persaingan/ lawan/ musuh (rivalry). Tahap cermin memberikan tegangan agresif (aggressive tension) antara subjek dengan citra (image). Untuk memecahkan tegangan agresif ini, subjek mengidentifikasi citra: identifikasi primer ini yang kemudian membentuk Ego. Identifikasi ini juga melibatkan ego ideal yang memiliki fungsi sebagai bentuk-bentuk keinginan berikut antisipasi Ego atas kepentingan yang akan datang. Ego ideal menjanjikan seorang subjek mencapai keinginannya melalui proses imitasi, peniruan, dan penjiplakan bapak/ ibu-nya atau tokoh idaman.
Itulah paparan singkat konsepsi tahap cermin Lacan. Memang, psikoanalisis yang di rekonstruksikan oleh Lacan memang berbeda dengan Freud. Kalaupun Lacan mengambil perangkat keras dalam pemikirannya. Lacan masih berada dalam Freudian ketimbang pada ranah aliran filsafat yang lain. Keberadaan pemikiran Lacan menyempurnakan psikoanalisis Freud. Misalnya saja, tentang konsep tentang ”yang lain (the other)” yang juga di bangun oleh Lacan yang mengklasifikasikan kedalam dua term: ”yang lain kecil (the little other atau juga sering disebut saja dengan the other)” dan ”yang lain besar” (the Big other).
Yang lain kecil (the little other) pada umumnya di pahami sebagai perlakuan terhadap eksistensi orang lain selain subjek sendiri. Namun, ada juga yang memahami bahwa yang lain kecil (the little other) ini sebagai “yang lain yang tidak terlalu lain” (the other who is not really other). Yang lain kecil (the little other) ini merupakan sebuah refleksi dan proyeksi atas Ego. Ia seolah-olah mencerminkan orang lain yang sebenarnya merupakan hasil dari konstruksi nilai subjektif “Aku (I)”.
Sedangkan, yang lain besar (the Big other) adalah semua yang berada di dunia nyata yang memiliki kekuatan-kekuatan yang bisa mengendalikan tubuh secara fisik. Ia bisa berbentuk bahasa dan jauh lebih kongkret, seperti halnya “hukum” atau pun institusi ”Negara”. The Big other ini-lah yang memediasi di antara subjek melalui simbol-simbol-nya (mediates the relationship with that other subject).
Begitulah psikoanalisis secara sederhana di lihat dalam konteks pemikiran Lacan. Kendatipun demikian, kita tetap menghadapkan secara diametral, kritik terhadap pemikiran Lacan yang juga banyak di sematkan oleh kalangan feminis. Karena Oedipus Complex Lacan satu sisi menjadi inspirasi bagi gerakan feminis, di sisi lain, sebuah pernyataan yang memojokan dan mematikan pengarus utamaan gender. Kritik lain, misalnya, Lacan tidak membicarakan tentang konsep “kuasa” atau power sehingga dari Lacanian-lah kita mendapatkan pemikiran Lacan yang di benturkan dengan politik atau hukum. Lacanian, seperti Jacques Miller, Slavoj Zizek, Yannis Stavrakakis, dst, sangat di harapkan menyempurnakan gagasan Lacan ini.
Read More

Pengertian Multinasional Company

Multinasional Company / Multinational Corporation (MNC) / Transnational Corporation (TNC) / Perusahaan Multinasional (PMN) adalah perusahaan yang berusaha di banyak Negara, perusahaan ini biasanya sangat besar. Perusahaan seperti ini memiliki kantor-kantor, pabrik atau kantor cabang di banyak negara. Mereka biasanya memiliki sebuah kantor pusat di mana mereka mengkoordinasi manajemen global.
Perusahaan multinasional yang sangat besar memiliki dana yang melewati dana banyak negara. Mereka dapat memiliki pengaruh kuat dalam politik global, karena pengaruh ekonomi mereka yang sangat besar bagai para politisi, dan juga sumber finansial yang sangat berkecukupan untuk relasi masyarakat dan melobi politik.
Karena jangkauan internasional dan mobilitas Perusahaan Multinasional, wilayah dalam negara, dan negara sendiri, harus berkompetisi agar perusahaan ini dapat menempatkan fasilitas mereka (dengan begitu juga pajak pendapatan, lapangan kerja, dan aktivitas eknomi lainnya) di wilayah tersebut. Untuk dapat berkompetisi, negara-negara dan distrik politik regional seringkali menawarkan insentif kepada Perusahaan Multinasional, seperti potongan pajak, bantuan pemerintah atau infrastruktur yang lebih baik atau standar pekerja dan lingkungan yang memadai.
Perusahaan Multinasional seringkali memanfaatkan subkontraktor untuk memproduksi barang tertentu yang mereka butuhkan.

Karakteristik Perusahaan Multinasional

Mencari keuntungan yang kompetitif dan memaksimalkan laba dengan terus-menerus mencari lokasi produksi yang paling efisien dan murah.

Menguasai tiga per empat perdagangan dunia dan sekitar sepertiga dari seluruh output perekonomian global.

Beroperasi di lebih dari satu negara dan tidak memiliki negara basis yang jelas. Namun demikian, mereka memproduksi dan menjual secara internasional.

Memiliki fleksibilitas geografis yang memudahkan mereka memindahkan berbagai sumber dan operasi di seluruh dunia.
Read More

Sunday, June 12, 2011

Teori Cultivation oleh Gebner, Gross dan Morgan : 1997

Teori ini menjelaskan bahwa karena kemampuan siarannya yang menembus batas, televisi merupakan sumber primer pensuplay informasi bagi masyarakat. Teori Cultivation bekerja dengan sistem sebagai berikut, conten televisi bersifat seragam sementara masyarakat menonton televisi tidak secara selektif sehingga televisi mampu membentuk dan mengubah persepsi atas realitas atau dunia nyata.
Read More